Lenteraweb

Tampilan file desain UI website di layar laptop dengan artboard halaman, panel warna, dan daftar komponen, gambaran pekerjaan UI UX

Apa Itu UI UX? Pengertian, Perbedaan, dan Contohnya

UI UX adalah dua istilah yang sering dipakai sekaligus, padahal keduanya menunjuk pekerjaan yang berbeda: UI (user interface) mengurus tampilan antarmuka, sedangkan UX (user experience) mengurus pengalaman orang saat memakai produk itu. Istilah ini menempel pada hampir semua pembicaraan seputar website atau aplikasi, termasuk saat pemilik usaha meminta revisi desain tanpa tahu bagian mana yang sebenarnya bermasalah. Halaman ini kami tulis untuk pemilik usaha dan pengelola website yang ingin memahami apa itu UI UX tanpa harus masuk ke sekolah desain: pengertian keduanya, perbedaan yang paling sering membingungkan, elemen yang benar-benar terasa oleh pengunjung, dan cara menilai website Anda sendiri tanpa alat berbayar.

Apa Itu UI UX?

UI UX adalah singkatan dari user interface dan user experience. Keduanya disebut berpasangan karena dikerjakan dalam satu alur yang sama: merancang tampilan yang akan dipakai orang, sekaligus memastikan cara memakainya masuk akal. IBM dalam penjelasan resminya menyebut pengalaman pengguna sebagai pengalaman keseluruhan yang dirasakan pelanggan saat berinteraksi dengan produk atau layanan, mencakup kemudahan penggunaan, aksesibilitas, desain visual, dan fungsi antarmuka. Istilah UX sendiri dipopulerkan Don Norman, yang menyusun definisinya saat bekerja di Apple dan kemudian mendirikan lembaga riset Nielsen Norman Group. Definisi yang dipakai lembaga itu bisa dibaca di halaman definisi UX versi NN/g.

Pertanyaan apa itu UI UX biasanya muncul justru setelah pemilik usaha menerima hasil desain dan mendapati dua istilah itu dipakai bergantian untuk hal yang sama. Padahal pembagiannya cukup jelas. User interface adalah bagian yang berhubungan langsung dengan mata dan jari pengguna: tipografi, warna, tata letak, tombol, ikon, dan animasi perpindahan halaman. User experience cakupannya lebih luas: apakah orang bisa menemukan yang dicarinya, apakah alurnya masuk akal, apakah prosesnya melelahkan, dan apakah ia selesai dengan tenang atau berhenti di tengah jalan. Rangkaian prosesnya sendiri cukup panjang, mulai dari riset pengguna, penyusunan arsitektur informasi, pembuatan wireframe, prototipe, sampai pengujian kegunaan bersama pengguna nyata.

Cara mudah membedakannya, bayangkan sebuah restoran. UI adalah penampilan ruang, tata meja, dan desain menu. UX adalah keseluruhan pengalaman dari masuk, memesan, menunggu, sampai membayar. Menu yang indah tidak menolong kalau alur pemesanannya membingungkan. Begitu juga sebaliknya.

Dua monitor menampilkan wireframe abu-abu dan desain UI website jadi, contoh pekerjaan UI UX di meja desainer

Perbedaan UI dan UX yang Sering Ditunggangkan

Perbedaan utamanya ada pada fokus. UI mengurus tampilan dan elemen interaktif, UX mengurus alur dan kenyamanan orang menyelesaikan tujuan. Keduanya bukan dua kubu yang berlawanan: UI adalah bagian dari UX, sehingga hasil akhirnya selalu dinilai bersama.

Aspek UI (antarmuka) UX (pengalaman)
Fokus Tampilan visual dan elemen yang bisa disentuh Alur, kemudahan, dan kepuasan menyeluruh
Pertanyaan kunci Apakah jelas terbaca dan enak dilihat? Apakah mudah dipakai dan masuk akal?
Hasil kerja Mockup, komponen, panduan gaya visual Riset, wireframe, prototipe, catatan uji kegunaan
Ukuran keberhasilan Konsistensi, kontras, keterbacaan Tugas pengguna selesai tanpa frustrasi

Dalam praktik di tim kecil, dua pekerjaan ini sering dipegang satu orang. Yang penting bukan pembagian perannya, melainkan urutan berpikirnya: tentukan dulu apakah alurnya masuk akal, baru perbaiki tampilannya. Mengganti warna dan ukuran huruf untuk masalah alur yang belum beres hanya memindahkan keluhan ke tempat lain.

Baca Juga :  10 Layanan CDN Gratis Terbaik Untuk Website Anda

Kesalahan diagnosa paling sering yang kami temui berbunyi seperti ini: “desainnya kurang bagus”. Setelah diperiksa, masalahnya bukan warna atau jenis huruf, melainkan tiga hal di bagian UX, yaitu menu yang memakai istilah internal perusahaan, formulir yang meminta data terlalu banyak di awal, dan tombol pemesanan yang posisinya berpindah antar halaman. Semuanya tidak bisa diselesaikan dengan memilih palet warna baru. Karena itu, saat ada permintaan perubahan tampilan, kami biasanya meminta satu hal dulu: halaman tujuan dan langkah yang harus dilalui pengunjung.

Apa Saja yang Dikerjakan dalam Desain UX?

Desain UX bekerja dengan urutan yang bisa diperiksa, bukan spontan. Lima tahap berikut yang paling sering dipakai, dan tiap tahap bisa diulang ketika ada temuan baru.

  1. Riset pengguna. Mengumpulkan kebutuhan dan kebiasaan calon pengguna lewat wawancara singkat, kuesioner, atau pengamatan langsung cara orang memakai situs.
  2. Arsitektur informasi. Menyusun peta halaman dan penamaan menu agar isi website masuk akal bagi orang luar, bukan hanya bagi pemiliknya.
  3. Wireframe. Menyusun kerangka halaman tanpa warna dan gambar, untuk menguji tata letak dan urutan informasi lebih dulu. Cara membuatnya kami bahas terpisah di panduan apa itu wireframe.
  4. Prototipe. Menyambungkan wireframe menjadi alur yang bisa diklik, supaya orang bisa mencoba sebelum satu baris pun ditulis jadi kode.
  5. Pengujian kegunaan. Meminta beberapa orang menjalankan tugas nyata (misalnya “cari harga paket lalu hubungi penjual”) dan mencatat di bagian mana mereka berhenti atau salah klik.

Hasil tiap tahap sebaiknya berupa berkas yang bisa diperiksa, bukan sekadar kesepakatan lisan. Peta halaman, catatan wawancara, dan rekaman uji kegunaan akan berguna kembali setahun kemudian, ketika ada yang bertanya kenapa sebuah keputusan desain diambil.

Tangan menyentuh tombol pada prototipe aplikasi di ponsel, bagian dari pengujian kegunaan UI UX

Tahap pengujian inilah yang paling sering dilewati usaha kecil, padahal hasilnya paling murah didapat. Mencoba prototipe ke lima orang di luar tim biasanya sudah cukup memunculkan masalah alur yang sebelumnya tidak terlihat oleh pemilik website.

Elemen Desain UI yang Paling Terasa oleh Pengguna

Kalau alur sudah beres, pekerjaan UI menentukan apakah pengunjung merasa website ini terpercaya atau justru ragu. Interaction Design Foundation menggambarkan desain antarmuka sebagai proses membangun tampilan sebuah produk digital, sementara sisi pengalaman pengguna mengurus keseluruhan produk dan strateginya. Berikut elemen yang paling menentukan pada halaman yang kami kerjakan.

  • Ukuran dan keterbacaan teks. Teks isi yang terlalu kecil atau abu-abu muda membuat orang berhenti membaca sebelum sampai ke penawaran Anda.
  • Kontras warna. Kontras rendah antara teks dan latar adalah kesalahan yang paling sering muncul pada website yang baru dipasang sendiri.
  • Tombol utama yang tidak bisa direbut. Satu halaman sebaiknya punya satu tindakan utama yang paling menonjol, bukan lima tombol dengan warna sama.
  • Spasi yang cukup. Jarak antarbagian menentukan apakah isi terasa teratur atau menumpuk.
  • Konsistensi. Tombol, warna, dan gaya ikon sebaiknya seragam di seluruh halaman supaya pengunjung tidak perlu belajar ulang tiap pindah halaman.
  • Animasi seperlunya. Efek perpindahan membantu kalau menjelaskan perubahan, dan mengganggu kalau sekadar menghias.
  • Aksesibilitas dasar. Ukuran area sentuh yang memadai, teks alternatif pada gambar, dan navigasi yang tetap bisa dipakai tanpa mengandalkan warna semata.

Kenapa UI UX Berpengaruh ke Hasil Bisnis

Website yang pengalaman pemakaiannya buruk tidak langsung kehilangan penjualan di hari itu, tetapi gejalanya mudah dikenali. Formulir yang terlalu panjang membuat orang berhenti di tengah. Nomor kontak yang tidak kelihatan membuat pengunjung mencari ke tempat lain. Halaman katalog yang penuh banner membuat orang bingung menentukan mana yang perlu dibaca lebih dulu. Pola inilah yang paling sering kami temui saat membenahi halaman yang tadinya dibiarkan berjalan sendiri.

Baca Juga :  Pengertian Landing Page dan Fungsinya

Ada dua tempat kerugiannya. Yang pertama dan paling jelas: pengunjung yang sudah datang lewat pencarian lalu pergi tanpa menghubungi Anda, sehingga biaya memperoleh kunjungan itu tidak berbentuk apa pun. Yang kedua lebih senyap: pengunjung yang jadi, tetapi melalui telepon dan WhatsApp yang berulang kali menanyakan hal yang seharusnya sudah tertulis di halaman. Pada usaha yang timnya kecil, pertanyaan berulang seperti ini memakan waktu yang seharusnya dipakai mengurus pesanan.

Yang sering terlewat: masalah seperti itu tidak diperbaiki oleh tambahan promosi. Mengarahkan lebih banyak iklan ke halaman yang membingungkan hanya memperbesar pengeluaran, bukan hasilnya. Karena itu, urutan yang kami pakai selalu sama ketika klien meminta trafik dan konversinya naik sekaligus: rapikan dulu alur dan tampilan halamannya, baru tambah anggaran promosi. Prinsip yang sama kami pakai saat menangani halaman jualan, seperti yang dibahas di panduan cara meningkatkan penjualan online.

Dua laptop menampilkan dua versi desain website yang berbeda dengan lembar pengguna journey map, perbandingan hasil UI UX

Cara Menilai UI UX Website Sendiri dalam 15 Menit

Anda tidak perlu alat berbayar untuk menilai pengalaman pengguna website sendiri. Lima pemeriksaan berikut sudah cukup untuk menemukan masalah yang paling sering berdampak.

  1. Buka dari ponsel, bukan dari laptop. Sebagian besar pengunjung Indonesia datang lewat ponsel, jadi tampilan ponsel adalah acuan utama.
  2. Uji lima detik. Tunjukkan halaman depan ke seseorang selama lima detik, lalu tanya: ini situs apa, dan apa yang bisa saya lakukan di sini? Jawaban yang melenceng menandakan pesan utamanya belum jelas.
  3. Hitung langkah menuju tujuan. Hitung berapa klik dari halaman depan sampai orang bisa menghubungi Anda, mengisi formulir, atau menaruh produk di keranjang. Lebih dari tiga langkah, pertimbangkan penyederhanaan.
  4. Periksa kontras dan ukuran tombol. Pastikan teks nyaman dibaca dan tombol utama mudah disentuh dengan ibu jari, bukan terselip di pojok yang rapat.
  5. Minta dua orang di luar tim mencoba. Beri satu tugas nyata tanpa arahan, lalu diam dan perhatikan di mana mereka ragu. Catatan dari dua orang ini biasanya lebih berguna daripada diskusi internal berjam-jam.

Tulis temuan Anda sebagai daftar, bukan sebagai kesan umum. Kalimat “halamannya membingungkan” sulit dikerjakan, sedangkan “nama menu memakai istilah yang tidak dipakai pelanggan” langsung bisa diperbaiki hari itu.

Kapan Sebaiknya Menyewa Desainer UI UX?

Untuk website profil singkat, tema siap pakai yang ditata dengan rapi biasanya sudah cukup, terutama bila isinya masih sedikit dan tidak ada alur khusus. Kebutuhan desain khusus muncul ketika ada proses yang tidak biasa: kalkulator harga, pemilihan paket berlapis, pendaftaran bertahap, atau toko online yang alurnya menentukan apakah pembeli menyelesaikan pembayaran atau tidak.

Sebelum memesan desain, siapkan tiga bahan ini agar pekerjaannya tidak berputar-putar: daftar halaman yang dibutuhkan, tiga contoh situs yang Anda anggap enak dipakai (beserta alasan singkatnya), dan naskah isi halamannya. Pengalaman kami, klien yang datang dengan tiga bahan itu biasanya selesai lebih cepat karena tidak ada perdebatan soal kata dan daftar menu di tengah proses desain.

Perhatikan juga urutan pengeluarannya. Memesan desain ulang tampilan sebelum alurnya jelas biasanya berujung pada revisi berulang. Yang lebih hemat waktu: susun peta halaman dan wireframe dulu, baru minta desain visualnya dikerjakan. Tim kami di Lenteraweb menangani keduanya, dan cara berpikir ini yang kami pakai untuk halaman klien maupun situs sendiri; contoh pekerjaan dan cakupannya ada di halaman jasa pembuatan website murah.

Baca Juga :  Apa Itu Email Marketing: Jenis, Manfaat, dan Cara Memulai

Pertanyaan Umum tentang UI UX

Apa perbedaan UI dan UX secara singkat?

UI mengurus tampilan antarmuka yang dilihat dan disentuh pengguna, seperti warna, tipografi, tombol, dan tata letak. UX mengurus pengalaman menyeluruh: apakah orang bisa menyelesaikan tujuannya dengan mudah dan tanpa frustrasi. UI adalah bagian dari UX, karena tampilan hanya berguna kalau alurnya masuk akal.

Apakah memahami apa itu UI UX penting untuk pemilik usaha?

Penting, setidaknya pada tingkat dasarnya, karena sebagian besar keputusan yang diminta ke Anda berbentuk pilihan: mana tata letak yang dipakai, mana tombol yang ditonjolkan, data apa yang wajib diisi pengunjung. Memahami perbedaan UI dan UX membuat Anda bisa menilai usulan desainer berdasarkan alasan, bukan selera.

Apakah desainer UI UX harus bisa coding?

Tidak wajib, tetapi paham batasan teknis membantu. Perancang UI UX lebih banyak bekerja dengan alat desain dan prototipe, lalu bekerja sama dengan pengembang saat menerapkan. Yang penting ia tahu konsekuensi keputusan desainnya, misalnya animasi berat yang memperlambat halaman di ponsel.

Alat apa yang biasa dipakai untuk desain UI UX?

Figma paling banyak dipakai karena mendukung kerja bersama dan prototipe yang bisa diklik. Untuk dokumen dan pemetaan alur, alat penggambar wireframe sederhana pun cukup. Yang menentukan kualitas bukan alatnya, melainkan kejelasan alur dan kerapian sistem komponennya.

Berapa lama proses desain UI UX sebuah website?

Untuk situs profil dengan lima sampai sepuluh halaman, tahap riset dan wireframe biasanya lebih cepat daripada tahap penyusunan tampilan dan revisi. Waktu terbesar justru di luar desain: penyiapan konten dan gambar. Karena itu, menyiapkan naskah lebih dulu membuat proses desain jauh lebih singkat.

Langkah paling berguna setelah membaca penjelasan apa itu UI UX di atas bukan mencari warna atau tema baru, melainkan menjalankan lima pemeriksaan tadi pada website Anda sendiri, lalu mencatat tiga bagian yang paling sering membuat orang gagal menyelesaikan tujuannya. Perbaikan kecil pada alur biasanya berdampak lebih besar daripada mengganti seluruh tampilan. Kalau setelah memeriksa Anda merasa butuh dibantu, tim kami menangani perancangan alur sekaligus tampilannya lewat layanan jasa digital marketing, dan rincian paketnya ada di halaman portofolio dan harga.

Baca Juga

Lenteraweb Avatar

Lenteraweb

Jasa Pembuatan Website & Digital Marketing

Lentera Web adalah Layanan Jasa Pembuatan Website Profesional Berkualitas dan Digital Marketing yang kini berfokus dalam update pengembangan teknologi digital. Jasa Website melayani seperti : web landing page, web toko online, web perusahaan / compro, web portal berita, web undangan pernikahan, web arsitek, web furniture, web custom dan berbagai jenis website lainnya. Untuk jasa digital marketing layanan yang kami sediakan seperti : jasa google ads, jasa facebook ads, jasa SEO, jasa desain logo, jasa desain compro, jasa editing video, jasa kelola sosmed, dan jasa penulis konten. Untuk informasi selengkapnya kunjungi official website kami di www.lenteraweb.com atau hubungi kami di +62 858 671 657 177

Fact Checked & Editorial Guidelines
Reviewed by: Subject Matter Experts